Seimbangkan Kesalehan Ritual dan Pelayanan Nyata, Kemenag Nabire Gaungkan Pesan Kasih Orang Samaria yang Murah Hati
Lewat renungan Injil Lukas 10:25–37, Penyuluh Agama Katolik Herman Yosef Jo, S.Fil., mengajak ASN mewujudkan kasih Allah melalui pelayanan yang nyata dan inklusif.
NABIRE — Bertempat di Aula Kementerian Agama Kabupaten Nabire, jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali menyelenggarakan agenda pembinaan kerohanian awal pekan, Senin (5/10/2026).
Bertindak sebagai pembina, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Nabire, Herman Yosef Jo, S.Fil., menyampaikan renungan firman Tuhan yang diangkat dari Injil Lukas 10:25–37 tentang perumpamaan “Orang Samaria yang Murah Hati”. Dalam pesannya, Herman mengajak seluruh pegawai untuk tidak sekadar menjalankan formalitas keagamaan, melainkan mewujudkan kasih Allah melalui aksi pelayanan yang nyata dan inklusif.
Renungan
Orang Samaria yang Murah Hati
Injil Lukas 10:25–37
Pembina Kerohanian
Herman Yosef Jo, S.Fil.
Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kabupaten Nabire
Membedakan “Beragama” dan “Beriman” dalam Dunia Kerja
Mengulas perumpamaan Injil tersebut, Herman menyoroti sikap seorang Imam dan seorang Lewi yang justru mengabaikan korban perampokan, sementara seorang Samaria—yang sering kali dipandang sebelah mata—justru tergerak oleh belas kasihan. Peristiwa ini menjadi refleksi kritis bagi jajaran ASN dalam mendudukkan makna kesalehan di tempat kerja.
Seorang Imam dan seorang Lewi
Justru mengabaikan korban perampokan.
Seorang Samaria
Sering dipandang sebelah mata, justru tergerak oleh belas kasihan.
“Panggilan menjadi murid Kristus itu mengagumkan tetapi sekaligus menantang. Kita perlu membedakan antara beragama dan beriman. Jangan sampai kita sibuk dengan urusan institusi dan ritual keagamaan, tetapi membatasi diri dalam melayani sesama yang membutuhkan.”
Herman Yosef Jo, S.Fil.Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kabupaten Nabire
Ia menambahkan bahwa kasih kepada Tuhan harus berjalan seimbang dengan kasih kepada sesama. Mengabaikan pelayanan publik yang adil dan bermartabat demi kepentingan pribadi atau kelompok merupakan bentuk penyempitan makna nilai-nilai keagamaan.
Pilar Utama Menghidupi Spirit Orang Samaria
Melalui pembinaan mental tersebut, terdapat empat penekanan utama yang disampaikan untuk diteladani oleh seluruh jajaran pegawai Kemenag Nabire:
-
Kasih yang Utuh
Menyeimbangkan keheningan doa dan ketaatan pada firman dengan tindakan belas kasih serta kepedulian sosial di tengah masyarakat.
-
Pelayanan Tanpa Diskriminasi
Mengikis batasan kelemahan manusia dengan melayani setiap orang secara adil, ramah, dan bermartabat tanpa membedakan latar belakang.
-
Sensitivitas dan Empati
Membuka mata, telinga, dan hati agar peka terhadap pergumulan masyarakat yang sedang mengalami kesulitan atau membutuhkan uluran tangan.
-
Prinsip Aksi Nyata
Mengutip firman dalam Kitab Yakobus, Herman mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati, sehingga integritas iman harus dibuktikan melalui kinerja konkret.
Integritas iman dibuktikan melalui kinerja yang konkret.
Berjalan Bersama Menghadirkan Kebaikan Bagi Sesama
Di akhir renungannya, Herman Yosef Jo mengajak seluruh ASN Kemenag Nabire untuk berani menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif di lingkungan kerja maupun masyarakat luas. Nilai kasih tidak diukur dari seindah apa kata-kata yang diucapkan, melainkan dari keberanian untuk bertindak jujur dan peduli.
Rangkaian kegiatan kerohanian diakhiri dengan doa permohonan bersama demi:
- Hikmat para pimpinan lembaga keagamaan
- Keteguhan masyarakat menghadapi tantangan zaman
- Kedamaian dan kesejahteraan berkelanjutan di Kabupaten Nabire
Bagikan berita ini

